Jakarta - Perjalanan media Indonesia adalah kisah tentang gagasan, pemikiran, dan persatuan. Arus informasi yang semakin cepat saat ini tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari proses panjang perjuangan pers dalam menerangi pemahaman dan membentuk kesadaran bangsa. Dalam momentum memperingati Hari Pers Nasional 2026, Museum Penerangan menyelenggarakan Muspen Talk bertajuk “Media Pemersatu Bangsa: Media Cetak Masa Lalu hingga Media Daring Masa Kini”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 25 Februari 2026, bertempat di Mini Teater Museum Penerangan.
Muspen Talk hadir sebagai forum edukatif untuk memperkuat pemahaman generasi muda tentang peran pers dalam perjalanan bangsa. Peserta diajak menelusuri bagaimana media tumbuh sebagai sarana pemersatu, dari era media cetak hingga transformasi media daring di tengah perkembangan teknologi digital. Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya jurnalisme yang beretika, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kepentingan publik.Diskusi menghadirkan dua narasumber yang memiliki latar belakang kuat di bidang media dan komunikasi, yaitu Akhyari Hananto, Founder Good News From Indonesia, serta Yudhi Soerjoatmodjo, Kurator dan Peneliti. keduanya mengulas dinamika perkembangan media serta tantangan menjaga kebenaran di era digital.
Dalam paparannya, Yudhi Soerjoatmodjo menyampaikan “5 Renungan Kritis untuk Pewarta Masa Depan”. Ia menekankan bahwa sejarah pers Indonesia bukan sekadar dokumentasi peristiwa, melainkan perjuangan panjang merebut dan mempertahankan kebenaran. Pada masa revolusi, kebenaran bahkan harus dibayar dengan risiko nyawa. Ia juga mengingatkan bahwa foto atau berita tidak selalu merekam kebenaran yang mutlak, karena konteks dan rekayasa dapat mempengaruhi makna sebuah informasi. Tantangan media masa kini tidak lagi berupa ancaman fisik, melainkan manipulasi visual, tekanan siber, dominasi algoritma, hingga polarisasi dan hilangnya empati di ruang digital.
Sementara itu, Akhyari Hananto menyoroti kekhawatiran terhadap peran algoritma dalam membentuk realitas digital. Ia menjelaskan bahwa platform media sosial bekerja berdasarkan ekonomi perhatian, dimana konten yang memicu emosi, terutama kemarahan cenderung lebih dipromosikan karena meningkatkan keterlibatan pengguna. Fenomena ini diperkuat oleh kondisi psikologis yang dikenal sebagai amygdala hijack, ketika respons emosional lebih cepat muncul dibandingkan pertimbangan rasional.
Berbeda dengan media cetak yang menyediakan jeda untuk merenung, media digital menghadirkan arus informasi tanpa henti dan menciptakan gelembung informasi (bubble). Mayoritas konten yang bernada negatif berpotensi memicu collective pessimism. Mengacu pada gagasan dalam buku Animal Spirits, kemunduran bangsa kerap berawal dari hilangnya keyakinan terhadap masa depan. Oleh karena itu, Akhyari mengangkat konsep The Stockdale Paradox individu di mana yang paling pertama jatuh adalah yang punya toxic positivity, kedua yang pesimis brutal, dan yang selamat yang punya Optimisme Rasional.
Muspen Talk dihadiri oleh 50 siswa dan siswi yang tergabung dalam ekstrakurikuler jurnalistik dari SMAN 88 Jakarta, SMAN 70 Jakarta dan SMAN 113 Jakarta. Kehadiran para pelajar ini menjadi langkah nyata dalam menumbuhkan kesadaran kritis serta literasi media di tengah arus informasi yang terus berkembang.

Melalui penyelenggaraan Muspen Talk 2026, Museum Penerangan mendorong generasi muda Indonesia untuk peka dan kritis dalam menyikapi setiap informasi. Fakta tidak seharusnya diterima secara mentah, melainkan harus dipahami setiap inci informasi dengan nalar yang jernih dan sikap yang bertanggung jawab. Dalam menyampaikan atau menyajikan informasi ke orang lain, generasi muda diharapkan mampu menjunjung etika, akurasi dan kesadaran, bahwasanya setiap pesan yang dipublikasi akan menimbulkan dampak yang berbeda bagi masyarakat dan persatuan bangsa. (Tim Layanan Publik Museum Penerangan)