Jakarta, Maret 2026 - Dalam rangka menyambut Hari Film Nasional yang diperingati setiap 30 Maret, Museum Penerangan melaksanakan kegiatan Bincang Koleksi dengan tema “Menelusuri Jejak dan Warisan Bapak Film Nasional”. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada Selasa, 10 Maret 2026, bertempat di Museum Penerangan. Kegiatan ini dihadiri oleh pihak internal Museum Penerangan dan pengelola museum yang berada di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kegiatan Bincang Koleksi kali ini menghadirkan narasumber dari keluarga Usmar Ismail, Badai Danindha Putra Saelan.
Ketua Tim Pengelolaan Koleksi Museum Penerangan, Yuri Arief Waspodo, menjelaskan bahwa program Bincang Koleksi merupakan bagian dari upaya pengelolaan koleksi museum. Melalui diskusi tersebut, museum tidak hanya menampilkan koleksi, tetapi juga memperkaya pemahaman publik melalui pertukaran pengetahuan, referensi, serta perspektif baru mengenai sejarah komunikasi dan perfilman Indonesia. Program ini juga menjadi salah satu wujud pelaksanaan fungsi museum sebagai ruang penelitian dan pengembangan pengetahuanDalam sesi pemaparan materi, narasumber selaku cucu dari Usmar Ismail menegaskan bahwa film tidak hanya dipandang sebagai karya seni, tetapi juga sebagai media komunikasi massa yang memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik, identitas bangsa, serta kesadaran kolektif masyarakat. Melalui karya-karyanya, Usmar Ismail menghadirkan potret kehidupan bangsa Indonesia pada masanya.
Pembahasan juga menyoroti film “Darah dan Doa’’. Film ini memiliki makna historis karena menjadi film pertama yang diproduksi sepenuhnya oleh putra dan putri Indonesia tanpa campur tangan pihak asing. Momentum inilah yang kemudian ditetapkan sebagai dasar peringatan Hari Film Nasional. Selain itu, beberapa karya penting lainnya seperti “Lewat Djam Malam” dan “Tiga Dara” turut dibahas sebagai bagian dari perjalanan sinema IndonesiaDiskusi juga menyinggung perusahaan film Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini), yang didirikan oleh Usmar Ismail pada tahun 1950 sebagai simbol kedaulatan budaya bangsa melalui industri film nasional. Melalui Perfini, Usmar Ismail berupaya menghadirkan film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga merekam realitas sosial serta perjuangan bangsa Indonesia. Semangat tersebut menjadikan karya-karyanya sebagai warisan penting dalam sejarah perfilman nasional.

Dari kegiatan ini. pihak keluarga Usmar Ismail menyampaikan apresiasi kepada Museum Penerangan atas upaya pelestarian koleksi Usmar Ismail, seperti proyektor, jas dan kamera film. Koleksi yang tersimpan di museum menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, sehingga generasi mendatang dapat memahami perjalanan sejarah perfilman Indonesia secara lebih utuh.
Kegiatan Bincang Koleksi diharapkan dapat memperluas wawasan mengenai sejarah perfilman Indonesia sekaligus memperkuat peran museum sebagai ruang edukasi publik. Dengan menelusuri jejak karya dan gagasan Usmar Ismail, Museum Penerangan mengajak generasi muda untuk terus menghargai dan melestarikan warisan budaya bangsa melalui dunia film. (Tim Layanan Publik Museum Penerangan)