Probolinggo – Upaya penanggulangan Tuberkulosis (TB) tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dalam membangun kesadaran publik dan menghapus stigma terhadap penderita TB. Semangat tersebut menjadi fokus utama kegiatan KLINIK KLIK (Keluarga Indonesia Kuat): Penyintas Jadi Influencer – Bangun Komunitas, Sebarkan Konten, Lawan Stigma TB! yang digelar di Desa Ngadisari, Kabupaten Probolinggo (23/6).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ini dihadiri unsur masyarakat, tenaga kesehatan, tokoh desa, hingga kreator konten. Tidak hanya menjadi ruang dialog antara tenaga kesehatan dan masyarakat namun juga untuk menjawab mitos TB, upaya pencegahan terhadap TB, dan menghilangkan stigma negatif penderita TB di masyarakat.
Acara dibuka oleh Ketua Tim Kelembagaan Komunikasi Pemerintah, Angki Kusuma Dewi, mewakili Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Komdigi. “TB bukan hanya persoalan kesehatan individu, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Edukasi, deteksi dini, kepatuhan pengobatan, serta dukungan sosial menjadi kunci penting dalam memutus rantai penularan dan meningkatkan angka kesembuhan.” terangnya saat menyampaikan sambutan.
Dokter Spesialis Paru dan Konsultan Pulmonologi, dr. Iin Noor Chozin hadir sebagai narasumber yang menjelaskan bahwa TB merupakan penyakit yang dapat disembuhkan.
“Jika penderita TB disiplin minum obat sesuai dengan arahan dokter, dalam waktu dua minggu, potensi menularnya akan turun sampai 80%. Pasien sudah diperbolehkan beraktivitas tetap dengan menggunakan masker. Masyarakat tidak perlu takut tetapi berikan dukungan, temukan dan obati sampai sembuh. ” jelas dr. Iin.
Selain mendapatkan penjelasan medis dari tenaga kesehatan, peserta juga memperoleh perspektif langsung dari penyintas TB sekaligus Inisiator Yayasan Rekat Peduli Indonesia, Ani Herna Sari, mengenai pengalaman menghadapi TB, proses pengobatan, serta tantangan stigma sosial yang masih dialami.
“Kedisiplinan pengobatan membutuhkan dukungan kuat dari keluarga. Minum obat dalam waktu enam bulan tidak putus itu susah dan melelahkan, butuh pengingat dari orang-orang di sekitar pasien. Keluarga juga perlu membangkitkan semangat pasien agar terus punya harapan untuk sembuh,” ucap Ani memberikan semangat.
Kegiatan ini juga sekaligus memberikan pelatihan kepada masyarakat terkait pembuatan konten digital bertema “Lawan Stigma Tuberkulosis” yang dipandu oleh influencer Patrecia Thania.
“Di workshop ini, kami membekali peserta mengenai penyusunan pesan dan pemanfaatan platform digital secara maksimal. Tujuannya agar jangkauan informasi mengenai TB semakin luas dan efektif melawan stigma kepada pasien di masyarakat,” jelasnya.
Melalui pendekatan edukasi, kolaborasi komunitas, dan pemanfaatan media digital, kegiatan Klinik KLIK diharapkan dapat melahirkan agen-agen perubahan baru di masyarakat yang mampu menyebarkan informasi yang benar tentang TB sekaligus membantu menghapus stigma terhadap para penyintas.