JAKARTA, 25 Juni 2026 - Pemerintah terus memperkuat transformasi pendidikan nasional melalui peluncuran Program Sekolah Garuda, sebuah sekolah unggul berasrama yang menjadi bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto. Program ini dirancang untuk menjaring bibit siswa-siswi terbaik/berprestasi dari seluruh penjuru Indonesia, juga dari keluarga kurang mampu, yang kemudian dipersiapkan untuk menjadi SDM unggul yang siap bersaing di tingkat global menuju Indonesia Emas 2045.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menjelaskan bahwa Sekolah Garuda lahir dari keyakinan bahwa talenta terbaik bangsa tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Namun, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan unggul selama ini belum dinikmati secara merata.
"Presiden melihat bahwa talenta ada di mana-mana, tetapi kesempatan tidak ada di mana-mana. Tugas pemerintah adalah menciptakan kesempatan tersebut," kata Stella dalam Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertema ‘SMA Kelas Dunia untuk Indonesia Emas 2045’, Kamis (25/6).

Stella mengatakan, Indonesia hingga hari ini sejatinya sudah memiliki sejumlah sekolah unggulan yang berhasil melahirkan lulusan berkualitas. Namun, akses terhadap sekolah-sekolah tersebut masih relatif terbatas bagi siswa dari keluarga kurang mampu. Berangkat dari kondisi tersebut, pemerintah menghadirkan Sekolah Garuda sebagai upaya memastikan bahwa latar belakang ekonomi tidak lagi menjadi penghalang bagi anak-anak berprestasi untuk memperoleh pendidikan terbaik.
"Yang dituju adalah mereka yang paling pintar dan paling berprestasi, apa pun latar belakangnya," ujar Stella.
Skema Pemerataan Pendidikan Unggul
Dalam pelaksanaannya, Sekolah Garuda dikembangkan melalui dua skema utama. Pertama, Sekolah Garuda Baru, yakni pembangunan sekolah unggulan dari awal di wilayah yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan berkualitas, termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Menurut Stella, dari empat Sekolah Garuda Baru yang berlokasi di Belitung Timur; Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur; Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara; dan Bulungan, Kalimantan Utara akan mulai beroperasi pada 20 Juli 2026 ini.
Skema kedua, Sekolah Garuda Transformasi, yaitu penguatan SMA dan MA unggulan yang telah ada agar mampu mencapai standar pendidikan kelas dunia melalui peningkatan kualitas pembelajaran, pengembangan siswa, serta penguatan tata kelola sekolah. Melalui pendekatan ini, pemerintah berupaya mempercepat peningkatan mutu pendidikan nasional tanpa harus selalu membangun sekolah baru.
"Kami tidak mengganti gedung dan tidak mengganti guru. Yang kami perbaiki adalah sistemnya agar sekolah yang sudah bagus bisa menjadi lebih optimal," jelas Stella.
Lebih lanjut Stella menerangkan, Pemerintah tak lupa menempatkan kualitas pendidik sebagai fondasi utama keberhasilan Sekolah Garuda. Karena itu, proses seleksi kepala sekolah dan guru dilakukan secara ketat. Pemerintah juga menyiapkan berbagai insentif untuk menarik tenaga pendidik terbaik agar bersedia mengajar di lokasi-lokasi Sekolah Garuda yang tersebar di berbagai daerah.
Selain memberikan tunjangan khusus, pemerintah menyiapkan rumah dinas yang layak bagi para guru dan kepala sekolah. Langkah ini diambil sebagai bentuk penghargaan terhadap profesi guru sekaligus upaya memastikan kualitas pendidikan terbaik dapat hadir hingga ke daerah.
“Sebagus apa pun gedungnya, sekolah tidak akan berhasil tanpa guru yang berkualitas,” tegas Stella.
Mendorong Kemajuan Daerah
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Konawe Selatan, Irham Kalenggo, menilai pembangunan Sekolah Garuda Baru di wilayahnya bukan hanya menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat. Menurut Irham, proses pembangunan sekolah berjalan cukup pesat dengan melibatkan sekitar 1.500 tenaga kerja, termasuk pekerja lokal. Ia optimistis seluruh fasilitas dapat segera rampung sesuai target yang telah ditetapkan.
"Dengan tenaga kerja yang ada, saya yakin dalam beberapa minggu ke depan pembangunan bisa selesai," ujarnya.

Lebih dari sekadar menghadirkan sekolah unggulan baru, Irham berharap Sekolah Garuda dapat menjadi pemicu peningkatan kualitas pendidikan di Konawe Selatan. Ia mengakui bahwa kualitas pendidikan di sejumlah daerah, termasuk Konawe Selatan, masih tertinggal dibandingkan daerah-daerah lain, terutama Pulau Jawa. Karena itu, kehadiran Sekolah Garuda dapat mendorong pemerintah daerah untuk mulai memperkuat pembinaan siswa sejak jenjang pendidikan dasar.
"Tidak bisa dipungkiri bahwa kualitas pendidikan kita masih tertinggal. Dengan adanya Sekolah Garuda, saya justru terinspirasi untuk menyiapkan sekolah-sekolah unggulan sejak tingkat SD hingga SMP," katanya.

Sementara itu, Kepala SMA Unggul Garuda Bulungan, Kalimantan Utara, Adhi Sulandani Pangreksa, mengatakan Sekolah Garuda tetap menggunakan kurikulum nasional, namun diperkuat dengan berbagai program pengembangan akademik, kepemimpinan, dan karakter. Melalui pendekatan tersebut, pemerintah berharap dapat mencetak lulusan yang tidak hanya mampu menembus perguruan tinggi terbaik dunia, tetapi juga memiliki komitmen kuat untuk kembali berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.
"Kami akan terus berinovasi agar bisa mengantarkan siswa-siswa terbaik Indonesia ke universitas-universitas top dunia. Ini adalah cita-cita besar yang sedang diwujudkan," katanya.
Untuk diketahui Sekolah Garuda berbeda dengan Sekolah Rakyat. Sekolah Rakyat merupakan program pemerintah yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan dalam mengakses pendidikan. Sementara Sekolah Garuda akan lebih banyak menyasar pada pengembangan siswa dari keluarga kurang mampu yang punya prestasi di tingkat SMA, khususnya yang memiliki potensi unggul di bidang sains dan teknologi.