Media Lokal: Tetap Relevan dengan Menjaga Kualitas dan Integritas

09 July 2026
Media Lokal: Tetap Relevan dengan Menjaga Kualitas dan Integritas

KABUPATEN SLEMAN - Transformasi digital menuntut semua industri bergerak, tak terkecuali media massa. Tantangan industri media pun semakin kompleks, mulai dari persaingan, kapasitas SDM, hingga kemampuan ekonomi media itu sendiri. Kendati menghadapi berbagai tantangan, industri media harus mempertahankan kredibilitas serta menjaga kualitas jurnalisme.

 

Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Farida Dewi Maharani, mengatakan media lokal memiliki peran strategis bagi pemerintah. Pasalnya media lokal dapat menangkap peristiwa dan kondisi di masing-masing daerah. Mengingat pentingnya peran media lokal, Komdigi merasa perlu menjaga keberlanjutan hingga kualitas media. Itulah sebabnya, Komdigi menggandeng TribunNetwork menghadirkan workshop bertajuk Membangun Media Lokal Berkelanjutan, Rabu (8/7/2026).

 

“Peran media lokal itu sangat penting, karena menjadi mata dan mitra pembangunan di daerah. Kami menganggap media itu sebagai mitra strategis untuk melihat dan menyampaikan bagaimana kondisi pembangunan di Indonesia,” Ungkapnya. 

 

Tantangan yang dihadapi media bukan hanya dari sisi ekonomi dan bisnis agar tetap eksis, tetapi sisi SDM juga perlu diperkuat agar terus dapat menghadirkan informasi yang tepercaya kepada publik. 

 

“Tantangannya (media) cukup kompleks, mulai dari persaingan yang berdampak pada kemampuan ekonomi dari media. Nah, ekonomi media juga memengaruhi kualitas. Sehingga bisnis media harus diperkuat, agar media itu juga kredibel,” sambungnya.

 

Pihaknya juga mendorong agar wartawan media lokal bisa mengikuti uji kompetensi. Namun dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, swasta, dan stakeholder terkait.

 

Sementara itu, Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers, Muhammad Jazuli, menekankan aset media adalah kepercayaan publik. Untuk menjaga kepercayaan publik, para wartawan yang bekerja di media harus senantiasa memegang teguh Kode Etik Jurnalistik (KEJ) serta beberapa aturan yang telah diatur Dewan Pers. Menurut Jazuli, media arus utama memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar karena diikat oleh berbagai regulasi dan standar etik.

 

"Kepercayaan masyarakat menjadi kebutuhan utama. Jika kepercayaan itu hilang, media juga akan kehilangan audiens sekaligus legitimasi," tegasnya.

 

Pada kesempatan yang sama, Pemimpin Redaksi Tribun Jogja, Ibnu Taufik Juwariyanto, menerangkan paradigma pemberitaan juga perlu berubah. Selama ini dikenal ungkapan bad news is good news. Namun menurutnya, di tengah kebutuhan masyarakat akan informasi yang mencerahkan, berita positif yang berkualitas juga memiliki nilai penting.

 

"Bad news is good news, but good news is good news too," ujarnya.

 

Content Marketing Manager Kompas.com, Luthfi Kurniawan, menekankan pada branding media lokal. Ia menilai branding lebih penting daripada jumlah pembaca. Pasalnya branding yang diciptakan media lokal akan mewakili pembaca. Untuk memperkuatkan bisnis, ia menyarankan agar media lokal tidak mengandalkan pada satu sumber pendapatan.

 

“Kalau tidak punya produk yang kuat, tidak ada bedanya dengan media sebelah, tentu akan sulit. Sehingga branding ini menjadi penting, karena branding mewakili para pembaca. Dan mestinya harus mengutamakan kepentingan publik,” terangnya.

 

Menutup sesi workshop, Luthfi menekankan bahwa traffic memberi perhatian, sementara trust memberi alasan untuk percaya. Tapi produk memberi alasan untuk membayar dan sistem memberi peluang untuk bertahan.

Bagikan:
Berita Terkait
Beri Masukan Anda
Apakah anda memiliki masukan, pertanyaan, atau keluhan terhadap pelayanan website kami?