Jakarta, 14 Juli 2026 - Pemerintah terus memperkuat berbagai strategi untuk menekan angka pengangguran sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap lapangan kerja. Salah satu langkah yang kini menjadi fokus adalah Program Magang Nasional (PMN) atau Magang Hub yang digagas Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Ketenagakerjaan. Program ini dirancang tidak hanya memberikan pengalaman kerja bagi lulusan baru, tetapi juga menjadi jembatan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor mengatakan Program Magang Nasional merupakan salah satu instrumen pemerintah untuk menekan angka pengangguran.
"Memang belum cukup mengatasi jumlah angka pengangguran yang hampir 7,24 juta orang. Tapi ini kita harapkan minimal bisa meminimalisir angka tersebut," ujar Afriansyah dalam Dialog FMB9 bertajuk Program Magang Nasional: Solusi Taktis - Strategis Problem Ketenagakerjaan.
Sebagai bentuk keseriusan pemerintah, kuota peserta terus diperluas. Pada angkatan pertama, pemerintah menyediakan kesempatan bagi 100.000 peserta dan pada Angkatan kedua 2026 menjadi 150.000 peserta.
Afriansyah mengatakan, perluasan kuota tersebut juga diikuti dengan pemerataan akses. Mengingat program ini tidak difokuskan di Pulau Jawa saja, melainkan dari seluruh Indonesia. Langkah ini diharapkan membuka kesempatan yang lebih luas bagi lulusan di berbagai daerah untuk memperoleh pengalaman kerja yang relevan dengan kebutuhan industri.
Kebijakan tersebut juga dinilai penting mengingat tantangan ketenagakerjaan Indonesia masih cukup besar. Data BPS menunjukkan pengangguran hingga Februari 2026 mencapai sekitar 7,24 juta orang. Karena itu melalui Program Magang Nasional, pemerintah berharap dapat mengurangi angka pengangguran sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang siap memasuki dunia kerja.
“Bapak Presiden berharap dengan Magang Nasional ini anak-anak yang baru lulus punya pengalaman, punya kompetensi, dan memiliki memori bekerja. Ketika masuk ke dunia kerja, mereka sudah siap karena pernah merasakan langsung bagaimana budaya kerja di perusahaan,” ujarnya.
Ia melanjutkan, selain memperoleh pengalaman kerja secara langsung di perusahaan, peserta juga mendapatkan uang saku setara UMP atau UMK, perlindungan BPJS Ketenagakerjaan, serta sertifikasi kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Dengan demikian, lulusan tidak hanya memiliki pengalaman kerja, tetapi juga bekal kompetensi yang diakui secara nasional.
Dalam kesempatan ini ia juga mengatakan, berdasarkan evaluasi pelaksanaan angkatan pertama menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Penyerapan tenaga kerja oleh perusahaan pada angkatan pertama mencapai angka 30%. Capaian ini dinilai menjadi indikator bahwa skema magang mampu mempercepat proses transisi lulusan dari dunia pendidikan menuju dunia kerja.
Jembatan Dunia Pendidikan dan Industri
Lebih lanjut Afriansyah mengakui jumlah peserta Program Magang Nasional saat ini belum mampu mengatasi seluruh persoalan pengangguran nasional yang mencapai lebih dari tujuh juta orang. Namun, ia menegaskan program ini merupakan bagian dari strategi pemerintah yang lebih luas untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja sekaligus mengurangi kesenjangan kompetensi antara lulusan dengan kebutuhan industri.
Ia menambahkan, paradigma magang kini juga telah berubah. Peserta tidak lagi ditempatkan hanya untuk mengerjakan pekerjaan administratif sederhana, melainkan dilibatkan dalam proses kerja sesuai bidang kompetensi masing-masing.
"Kalau mereka menunjukkan kemampuan, perusahaan langsung bisa merekrut," ujar Afriansyah.
Selain memperkuat penyerapan tenaga kerja di dalam negeri, pemerintah juga menyiapkan jalur magang dan penempatan kerja ke luar negeri. Afriansyah menyebut kebutuhan tenaga kerja global terus meningkat, terutama di Jepang yang mengalami penurunan jumlah penduduk hingga sekitar 3 juta jiwa. Karena itu, pemerintah mendorong penguasaan bahasa asing seperti Jepang, Korea, dan Mandarin agar lulusan Indonesia memiliki daya saing lebih tinggi.
Program Magang Nasional juga mendapat apresiasi dari kalangan dunia usaha. Wakil Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO, Darwoto, menilai program tersebut berhasil menjawab kebutuhan industri yang selama ini kesulitan memperoleh tenaga kerja siap pakai. Menurutnya, perusahaan memperoleh kesempatan mengenali kualitas peserta selama masa magang sehingga proses rekrutmen menjadi lebih efektif.
"Kami menyambut positif program magang ini. Dari sisi memberikan pengalaman bekerja bagi fresh graduate, ini sangat penting sekali. Perusahaan juga merasakan manfaatnya karena proses mencari tenaga kerja menjadi lebih mudah," ujar Darwoto.
Darwoto menyebut sekitar 30% peserta angkatan pertama menunjukkan bahwa mereka memiliki kompetensi, kemampuan beradaptasi, serta etos kerja yang baik selama menjalani magang.
“Kenapa perusahaan merekrut? Karena perusahaan sudah merasakan — selama 6 bulan, kinerja anak ini menjadi baik, meski belum bisa dikatakan sempurna," ujarnya.
Darwoto juga menilai Program Magang Nasional menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan industri untuk membangun sistem link and match yang selama ini masih menjadi tantangan.