BANDA ACEH – Informasi publik memiliki peran strategis dalam pelaksanaan pemulihan pascabencana Sumatra. Komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat menjadi modal dalam meningkatkan kepercayaan publik serta membantu pelaksanaan pemulihan tepat sasaran.
Kepala Posko Wilayah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rehabilitasi Pascabencana Sumatra (Satgas PRR), Safrizal ZA menegaskan pentingnya jembatan yang menjadi penghubung komunikasi pemerintah dan masyarakat. Menurutnya, pelibatan masyarakat secara langsung dalam komunikasi publik diperlukan agar lebih menyentuh masyarakat.
“Melalui kegiatan hari ini pemerintah berkeinginan untuk mendekatkan informasi yang diberikan sedekat mungkin dengan publik,” ujar Safrizal dalam Workshop Kreator Informasi Lokal: Mengemas Narasi Pemulihan Lewat Konten Kreatif yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital di Aceh, Selasa (12/5/2026).
Safrizal mengungkapkan pendekatan komunikasi dua arah berbasis komunitas penting untuk menjangkau masyarakat terdampak. Namun, perlu penguatan kapasitas bagi kreator informasi lokal dalam mendukung komunikasi proses pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi pascabencana di Aceh.
Kemampuan dalam membuat sebuah konten informasi menjadi kunci dalam penyebaran informasi termasuk juga mengemas informasi untuk disampaikan kepada pemerintah.
“Dalam jaringan Komunikasi yang dibangun, Satgas akan memberikan informasi regular, masyarakat juga dapat berperan aktif dengan memberikan feedback, bertanya dan mendapatkan informasi,” terang Safrizal.
Sementara itu, Direktur Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Digital, Nunik Purwanti, menegaskan bahwa komunikasi publik pada masa pemulihan bukan sekadar penyebaran informasi. Nunik mengatakan, pesan pemerintah tidak akan efektif jika hanya berjalan satu arah. Karena itu, diperlukan komunikasi dua arah yang melibatkan masyarakat lokal secara langsung. Ia menilai kreator informasi lokal memiliki peran strategis karena memahami budaya, bahasa, dan kebutuhan warga di lapangan.
“Jembatan komunikasi ini diharapkan mampu menjalankan tiga fungsi krusial, yaitu mendistribusikan informasi resmi kepada warga, menangkap aspirasi dan kebutuhan nyata warga di lapangan dan mengomunikasikan langsung kepada pihak berwenang, serta melawan hoaks dan disinformasi,” ungkap Nunik.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Aceh, Edi Yandra, turut menyoroti pentingnya pelibatan komunitas lokal dalam mengkomunikasikan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Pembangunan jejaring komunikasi diperlukan dalam menyampaikan narasi pemulihan pascabencana.
“Narasi pemulihan tidak cukup hanya dari sumber resmi, namun butuh pendekatan yang lebih humanis melibatkan komunitas lokal,” ujar Edi.
Dalam sesi diskusi, salah satu narasumber, Destika Gilang Lestari, Pegiat Literasi Digital, mengingatkan bahwa hoaks dalam situasi bencana dapat menimbulkan dampak nyata bagi masyarakat. Ia mencontohkan beredarnya isu tsunami di Pidie Jaya pada Desember 2025 yang membuat warga panik hingga menyebabkan kecelakaan dan korban harus mendapatkan perawatan.
Gilang menekankan, media dan konten kreator memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan informasi yang disampaikan telah terverifikasi. Menurutnya, konten kreatif tidak boleh hanya mengejar viralitas, tetapi harus membawa manfaat dan membantu masyarakat tetap tenang dalam situasi pemulihan.
“Konten kreator perlu membuat konten yang mendamaikan dan bermanfaat bagi masyarakat, bukan hanya konten yang mengejar viral,” katanya.
Pada sesi praktik, Kepala Produksi Media Sosial Indonesia.go.id, Singgih Aji Abiyuga, mengajak peserta memahami cara kerja informasi di era digital. Menurutnya, kreator tidak cukup hanya mampu membuat konten menarik, tetapi juga perlu memahami kecepatan penyebaran informasi, pola konsumsi publik, dan pentingnya literasi digital.
“Apa yang harus dilakukan di era digital adalah memahami bagaimana kerangka digital itu bekerja. Kita harus mengerti bagaimana cara kerja informasi di era digital,” ujar Singgih.
Ia menjelaskan, dalam situasi pascabencana, banyak cerita pemulihan yang sebenarnya memiliki nilai kuat, tetapi belum dikemas secara menarik. Pembangunan kembali jembatan, hunian sementara, fasilitas umum, gotong royong warga, hingga perjuangan masyarakat terdampak merupakan bagian dari narasi pemulihan yang dapat diangkat menjadi konten kreatif.
Melalui kegiatan ini, Kementerian Komunikasi dan Digital berharap kreator informasi lokal di Aceh dapat menjadi penghubung antara pemerintah dan masyarakat, sekaligus memperkuat narasi pemulihan yang humanis, akurat, kredibel, dan membangun harapan.