Bali — Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) memperkuat peran guru sebagai garda terdepan dalam membangun generasi yang cakap, aman, dan tangguh di ruang digital melalui penyelenggaraan Forum Sahabat TUNAS bertajuk "Guru Berdaya, Generasi Unggul dan Tangguh Digital sebagai Investasi Masa Depan" di Bali, Kamis (2/7/2026).
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media (Dirjen KPM) Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya, mengatakan tantangan yang dihadapi dunia pendidikan telah berkembang seiring pesatnya transformasi digital. Guru kini tidak hanya bertugas menyampaikan mata pelajaran seperti matematika, sains, atau biologi, tetapi juga memiliki peran strategis dalam membimbing peserta didik agar mampu menggunakan teknologi digital secara aman, sehat, dan bertanggung jawab.
"Hari ini guru tidak hanya mengajarkan matematika, biologi, sains, dan pelajaran lainnya. Guru juga dituntut memberikan bimbingan terbaik kepada anak-anak dalam menghadapi tantangan di ruang digital," ujar Fifi.
Ia menjelaskan, Forum Sahabat TUNAS menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus memperkuat kapasitas guru dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul akibat perkembangan teknologi digital.
Sebanyak sekitar 240 guru hadir secara langsung dalam kegiatan tersebut, sementara sekitar 500 guru lainnya mengikuti forum secara daring dari berbagai daerah di Indonesia.
Menurut Fifi, kehadiran para guru merupakan elemen penting dalam membangun ekosistem perlindungan anak di ruang digital karena mereka berinteraksi langsung dengan peserta didik setiap hari.
"Kami sejak lama bercita-cita menghadirkan forum yang mempertemukan para guru untuk bersama-sama memperkuat perlindungan anak di ruang digital. Alhamdulillah hari ini dapat terwujud," katanya.
Untuk memperkaya perspektif para peserta, Kemkomdigi menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang, mulai dari psikologi anak, literasi digital, hingga literasi keuangan.
Materi yang diberikan diharapkan mampu membantu guru memahami tantangan baru yang dihadapi anak-anak, termasuk dampak penggunaan teknologi digital terhadap perkembangan psikologis, meningkatnya ancaman penipuan digital, serta pentingnya membangun kesadaran perlindungan data pribadi sejak usia dini.
Fifi menekankan bahwa ancaman di ruang digital tidak hanya menyasar aspek keamanan fisik anak, tetapi juga memengaruhi pola pikir, kesehatan mental, hingga keamanan data pribadi mereka.
"Melindungi anak-anak bukan hanya melindungi fisiknya, tetapi juga melindungi pikirannya, karakter, dan data pribadinya," tegasnya.
Menurut Fifi, Forum Sahabat TUNAS lahir dari keyakinan bahwa perlindungan anak di ruang digital tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah.
Keberhasilan menciptakan ruang digital yang aman memerlukan kolaborasi erat antara pemerintah, orang tua, guru, sekolah, komunitas, dan seluruh elemen masyarakat.
Ia berharap forum tersebut dapat menghasilkan pemahaman bersama mengenai langkah-langkah konkret dalam membangun budaya digital yang sehat di lingkungan pendidikan.
"Kita membutuhkan dukungan para guru, orang tua, dan seluruh masyarakat agar anak-anak Indonesia semakin terlindungi ketika beraktivitas di ruang digital," ujarnya.
Fifi juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh guru yang hadir dalam forum tersebut. Menurutnya, para guru merupakan sosok yang memiliki kontribusi besar dalam membentuk karakter dan masa depan generasi Indonesia.
Ia berharap penguatan kapasitas guru melalui Forum Sahabat TUNAS dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi dunia pendidikan sekaligus memperkuat kesiapan generasi muda menghadapi perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Penyelenggaraan Forum Sahabat TUNAS sejalan dengan implementasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS), yang menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menciptakan ruang digital yang aman bagi anak.
Kegiatan ini juga mendukung pelaksanaan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, khususnya dalam pembangunan sumber daya manusia unggul, penguatan karakter generasi muda, percepatan transformasi digital yang inklusif, serta peningkatan literasi digital untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.