Ternyata peristiwa-peristiwa yang biasa dikenal melalui buku sejarah juga pernah diangkat dalam pertunjukan wayang. Salah satunya Sumpah Pemuda, yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928, tercatat sebagai salah satu kisah yang dibawakan melalui Wayang Suluh. Koleksi Museum Penerangan ini memperlihatkan bagaimana seni pertunjukan pernah menjadi sarana untuk memperkenalkan kembali perjalanan bangsa kepada masyarakat.
Wayang Suluh bukan sekadar kesenian tradisional. Kehadirannya berkaitan dengan perkembangan komunikasi publik di Indonesia, ketika pertunjukan dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi mengenai kehidupan berbangsa. Menariknya, tokoh yang dihadirkan tidak hanya berasal dari lingkungan kenegaraan, tetapi juga menggambarkan kehidupan masyarakat.
Sumpah Pemuda dalam Lakon Wayang Suluh
Sumpah Pemuda lahir dari Kongres Pemuda II yang berlangsung di Jakarta pada 27–28 Oktober 1928. Ikrar untuk bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, yaitu Indonesia, menjadi tonggak penting dalam perjalanan pergerakan nasional.
Hampir dua dekade kemudian, Wayang Suluh hadir sebagai media penyampaian informasi kepada masyarakat. Wayang ini diciptakan oleh R.M. Soetarto Harjowahono sebagai pembaruan dari Wayang Wahana. Pertunjukan perdananya berlangsung pada 10 Maret 1947 di Balai Rakyat Madiun oleh Sukemi, seorang staf Jawatan Penerangan.
Nama suluh berarti penerangan. Sesuai namanya, wayang ini digunakan untuk menyampaikan berbagai cerita kebangsaan dan informasi kepada masyarakat. Berdasarkan lakonnya, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sumpah Pemuda, serta beberapa program pemerintah pada masa itu menjadi bagian dari kisah yang diangkat dalam pertunjukannya.
Dengan demikian, Wayang Suluh memang bukan media yang digunakan ketika Sumpah Pemuda diikrarkan pada 1928. Melainkan, wayang ini hadir bertahun-tahun kemudian sebagai salah satu sarana untuk menceritakan kembali peristiwa tersebut kepada masyarakat dalam bentuk pertunjukan.
Bukan Hanya Tokoh, Ada Gambaran Kehidupan Masyarakat
Keunikan Wayang Suluh juga terlihat dari karakter yang ditampilkan. Berbagai karakter tokoh kenegaraan, seperti Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta, serta figur masyarakat, termasuk petani dan pedagang menjadi salah satu khas dari Wayang Suluh.
Kehadiran karakter tersebut memperlihatkan bahwa gambaran kehidupan dalam Wayang Suluh tidak hanya berpusat pada tokoh penting. Unsur visual berupa rumah dan kendaraan juga menarik untuk diamati karena memperkaya gambaran lingkungan kehidupan yang ditampilkan dalam set koleksi ini.
Perpaduan tokoh kenegaraan dan figur masyarakat menghadirkan gambaran yang lebih luas tentang kehidupan Indonesia. Wayang Suluh tidak hanya berkaitan dengan peristiwa besar, tetapi juga menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat menjadi bagian dari cerita yang dapat disampaikan melalui kesenian.
Wayang dalam Perubahan Zaman
Pada masanya, pertunjukan wayang menjadi salah satu cara untuk menyampaikan informasi secara langsung kepada masyarakat. Melalui tokoh dan cerita, pesan mengenai kehidupan berbangsa dapat diperkenalkan dalam bentuk yang berbeda dari pidato atau dokumen tertulis.
Kini, kisah Sumpah Pemuda dapat ditemukan melalui buku, film dokumenter, situs web, hingga media sosial. Perkembangan teknologi menghadirkan cara baru untuk mengenalkan sejarah kepada generasi berikutnya, tetapi Wayang Suluh mengingatkan bahwa upaya tersebut telah dilakukan melalui berbagai medium sejak dahulu.
Melalui koleksi ini, Museum Penerangan mengajak masyarakat melihat sejarah bukan hanya dari peristiwa yang terjadi, tetapi juga dari cara kisahnya disampaikan. Dari panggung wayang hingga layar digital, media penyampai informasi terus berubah. Namun, menjaga agar semangat persatuan dalam Sumpah Pemuda tetap dipahami menjadi bagian terpenting dari perjalanan sejarah bangsa.