Filosofi Koleksi Pohon Kehidupan di Museum Penerangan, Ketika Informasi Boleh Berubah tetapi Kebenaran Harus Tetap Terjaga

30 September 2026
Filosofi Koleksi Pohon Kehidupan di Museum Penerangan, Ketika Informasi Boleh Berubah tetapi Kebenaran Harus Tetap Terjaga

Ada yang berbeda dari sebuah pohon di Museum Penerangan. Bukan karena jenis kayunya atau ukurannya, melainkan karena pohon ini justru berdiri dalam posisi terbalik. Akarnya berada di atas, sementara batangnya mengarah ke bawah.

Pohon ini biasa disebut sebagai “Pohon Kehidupan”.

 

Sekilas, bentuknya dapat membuat orang bertanya-tanya. Mengapa sebuah pohon dibuat seperti itu? Apa maksudnya?

Di balik bentuk yang tidak biasa tersebut, tersimpan gagasan yang sejak awal berkaitan dengan salah satu hal penting dalam dunia komunikasi, yaitu kebenaran informasi.

 

Pesan di Balik Pohon

“Pohon Kehidupan” merupakan salah satu koleksi Museum Penerangan yang dibuat dari kayu pohon mangga kweni dan merupakan prakarsa (almh.) Ibu Tien Soeharto. Berdasarkan data hasil riset koleksi Museum Penerangan, pohon ini memiliki filosofi bahwa penerangan atau penyampaian informasi harus tetap mengutamakan kebenaran meskipun mengalami perubahan atau sudut pandangnya “diputarbalikkan”.

 

Dari bentuknya, kita bisa melihat bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan ke dalam sebuah benda. Pohon yang semestinya tumbuh dengan akar di bawah justru dibuat sebaliknya.

 

Bentuk tersebut bukan sekadar cara untuk membuat sebuah koleksi terlihat berbeda. Ada pesan yang ingin disampaikan: sesuatu dapat diputarbalikkan, tetapi hal itu tidak serta-merta mengubah apa yang benar menjadi salah atau salah menjadi benar.

 

Dalam proses komunikasi, informasi memang dapat mengalami perubahan. Cara menyampaikan pesan bisa berbeda, sudut pandang dapat beragam, dan konteksnya dapat berubah. Namun, kebenaran yang menjadi dasar informasi tetap menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.

 

Ketika Informasi Mengalami Distorsi

Dalam proses komunikasi, informasi tidak selalu diterima masyarakat dalam bentuk yang sama seperti ketika pertama kali disampaikan. Perubahan dapat terjadi karena cara penyampaian, pemahaman penerima, maupun konteks yang menyertainya. Kondisi inilah yang berkaitan erat dengan filosofi “Pohon Kehidupan”.

 

Koleksi ini menegaskan bahwa perubahan dalam penyampaian informasi tidak seharusnya menghilangkan kebenaran yang menjadi dasarnya. Informasi memiliki peran penting karena dapat memengaruhi cara masyarakat memahami suatu peristiwa, mengambil sikap, bahkan menentukan keputusan.

 

Karena itu, “Pohon Kehidupan” tidak hanya hadir sebagai karya yang memiliki bentuk unik. Koleksi ini menyampaikan prinsip bahwa penerangan kepada masyarakat harus tetap berlandaskan kebenaran, sekalipun informasi tersebut melewati proses penyampaian yang beragam.

 

Dari Koleksi untuk Kehidupan Sehari-hari

“Pohon Kehidupan” menunjukkan bahwa sebuah koleksi museum dapat menyimpan pesan yang jauh melampaui bentuk fisiknya. Sebuah pohon boleh berdiri terbalik, tetapi filosofi yang dibawanya tetap mengarah pada satu hal,bagaimana informasi sampai kepada masyarakat dengan tetap menjaga kebenaran di dalamnya.

 

Perkembangan media dan teknologi telah mengubah cara informasi disampaikan dan diterima masyarakat. Namun, gagasan yang dibawa “Pohon Kehidupan” mengajak kita melihat bahwa informasi boleh berpindah, berubah, bahkan diputarbalikkan, tetapi kebenaran tidak berhenti pada bagaimana sebuah pesan disampaikan.

Bagikan:
Berita Terkait