Jakarta - Bagaimana jika rasa penasaran terhadap benda bersejarah justru muncul saat seseorang sedang scrolling di ponselnya?
Kini, mengenal sejarah tidak selalu harus dimulai dari ruang museum. Foto, video pendek, hingga cerita yang dibagikan melalui media sosial dapat menjadi pintu pertama bagi masyarakat untuk mengenal sebuah koleksi sebelum datang dan melihatnya secara langsung.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Muspen Talk bertajuk “Dari Ruang Pamer ke Media Sosial: Seni Bercerita Sejarah di Dunia Digital” yang digelar di Museum Penerangan, Jakarta, Rabu (19/8/2026). Kegiatan ini membahas bagaimana media sosial dapat dimanfaatkan museum untuk memperluas jangkauan dan memperkenalkan koleksi kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Bukan Sekadar Unggah Koleksi
Hadir di media sosial tidak cukup hanya dengan mengunggah foto koleksi. Museum perlu memikirkan bagaimana sebuah konten dapat membuat masyarakat berhenti scrolling dan tertarik mengetahui cerita di balik sebuah benda.
Dalam sesi “Social Media in Tourism”, dibahas bahwa konten museum perlu relevan dengan audiens, memberikan nilai, serta mampu mendorong masyarakat untuk membagikannya. Dengan begitu, media sosial tidak hanya menjadi tempat untuk menampilkan koleksi, tetapi juga menjadi ruang untuk menyampaikan cerita dan pengetahuan kepada masyarakat.
Pengalaman Museum Bank Indonesia (MUBI) yang dibagikan dalam Muspen Talk juga menunjukkan bahwa berbagai bentuk konten digital dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan edukasi museum. Beberapa bentuk konten yang dibahas antara lain Fakta Unik, Live Virtual Tour, dan konten trivia melalui Instagram.
Pembuatan konten dapat diawali dengan melakukan brainstorming dan menentukan tujuan komunikasi. Ide tersebut kemudian dapat dikembangkan melalui beberapa pilar, seperti edukasi, koneksi, promosi, dan ruang inklusif.
Cerita yang dibagikan pun tidak harus selalu berasal dari koleksi. Aktivitas museum, pengalaman pengunjung, hingga orang-orang yang bekerja di balik layar juga dapat menjadi bahan untuk membuat konten.
Satu Koleksi, Banyak Cerita
Dalam sesi tersebut, narasumber sekaligus content creator museum, Nurul Inayah, menekankan pentingnya menemukan sudut cerita yang dapat membangun rasa penasaran masyarakat.
Salah satu contoh yang dibahas adalah arca Ganesha di Museum Nasional yang berada dalam kondisi patah. Alih-alih langsung memberikan penjelasan panjang mengenai koleksi tersebut, museum dapat memulainya dengan pertanyaan sederhana:
“Mengapa arca Ganesha ini patah?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengajak audiens mengetahui lebih jauh mengenai sejarah, kondisi, dan cerita di balik koleksi.
Dari satu benda, dapat lahir berbagai cerita. Kuncinya adalah bagaimana museum melihat sebuah koleksi dan menemukan sudut yang menarik untuk disampaikan kepada masyarakat.
Hal-hal yang membuat pengunjung penasaran ketika pertama kali melihat sebuah koleksi juga dapat menjadi sumber ide. Sesuatu yang terlihat unik, berbeda, atau tidak biasa dapat dikembangkan menjadi konten yang lebih dekat dengan pengalaman audiens.
Semua Orang Bisa Menjadi Pembawa Cerita
Keterbatasan sumber daya manusia tidak harus menjadi alasan bagi museum untuk berhenti membuat konten. Kurator, edukator, pemandu, hingga staf museum memiliki pengetahuan dan pengalaman yang dapat diolah menjadi sebuah cerita.
Gagasan tersebut terangkum dalam prinsip “Everyone is a content creator.” Artinya, cerita tentang museum bukan hanya menjadi tanggung jawab pengelola media sosial. Orang-orang yang bekerja di dalam museum juga memiliki sudut pandang yang dapat membantu memperkenalkan museum kepada masyarakat.
Yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan membuat video atau desain, tetapi juga kemampuan menemukan cerita dari sesuatu yang selama ini mungkin dianggap biasa.
Dari Scrolling ke Museum
Pada akhirnya, media sosial bukan sekadar tempat mengejar views, likes, atau jumlah pengikut. Tujuan yang lebih penting adalah membuat masyarakat mengenal museum, tertarik pada ceritanya, dan terdorong untuk datang.
Satu video singkat mungkin hanya muncul selama beberapa detik di layar ponsel. Namun, jika cerita yang disampaikan tepat, video tersebut dapat menjadi langkah pertama seseorang untuk mengenal museum lebih jauh.
Museum tidak harus meninggalkan ruang pamer untuk mengikuti perkembangan zaman. Museum hanya perlu membawa cerita dari balik koleksi ke tempat masyarakat berada.