Surakarta — Peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober menjadi momentum untuk mengenang lahirnya semangat persatuan bangsa Indonesia. Di balik ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, pers turut mengambil peran dalam menyebarluaskan gagasan kebangsaan serta membangun kesadaran masyarakat pada masa pergerakan nasional.
Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27–28 Oktober 1928 menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Semangat persatuan yang lahir dari peristiwa tersebut tidak hanya berkembang di ruang kongres, tetapi juga menyebar melalui tulisan, pemberitaan, dan berbagai bentuk komunikasi kepada masyarakat.
Pada masa itu, surat kabar menjadi ruang bagi para tokoh untuk menyampaikan pemikiran, mengkritik kolonialisme, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya persatuan. Pers tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi bagian dari perjuangan membangun identitas kebangsaan.
Tokoh Pers dalam Perjalanan Sumpah Pemuda
Sejumlah tokoh pers turut mewarnai perjalanan pergerakan nasional, di antaranya Adinegoro, Sumanang, dan Wage Rudolf Soepratman. Adinegoro dikenal sebagai wartawan yang aktif dalam perkembangan jurnalistik Indonesia. Sementara itu, Sumanang merupakan tokoh pers yang memiliki keterkaitan dengan Kongres Pemuda II. Kiprah para tokoh tersebut memperlihatkan hubungan antara dunia pers dan tumbuhnya kesadaran kebangsaan pada masa pergerakan.
Nama W.R. Soepratman juga memiliki tempat penting dalam sejarah Sumpah Pemuda. Selain dikenal sebagai wartawan surat kabar Sin Po, ia merupakan pencipta lagu “Indonesia Raya”. Dalam Kongres Pemuda II, Soepratman memperdengarkan lagu tersebut dengan biola di hadapan para peserta. Peristiwa ini menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan simbol kebangsaan Indonesia.
Dari tulisan di surat kabar hingga lantunan lagu, semangat persatuan disampaikan melalui berbagai medium yang menjangkau masyarakat. Pers dan para pelakunya menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju kemerdekaan Indonesia.
Arsip Pers Merekam Jejak Perjuangan Bangsa
Peran pers dalam perjalanan sejarah Indonesia juga dapat ditelusuri melalui arsip surat kabar yang masih tersimpan hingga kini. Salah satunya adalah pemberitaan Berita Yudha edisi 28 Oktober 1981 yang mengangkat tema Sumpah Pemuda dan semangat perjuangan bangsa.
Pemberitaan tersebut memperlihatkan bagaimana peristiwa Sumpah Pemuda terus dikenang dan dimaknai kembali pada masa berikutnya. Arsip pers tidak hanya merekam peristiwa, tetapi juga menyimpan gagasan, pandangan, dan cara masyarakat memahami sejarah pada zamannya.
Melalui koleksi arsip pers, masyarakat dapat menelusuri kembali perjalanan pemikiran kebangsaan serta memahami kontribusi berbagai tokoh dalam membangun Indonesia. Semangat Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa pers memiliki peran penting dalam merawat ingatan kolektif bangsa. Sebagai sumber sejarah, arsip pers membuka ruang bagi generasi masa kini untuk belajar dari perjuangan masa lalu dan meneruskan semangat persatuan dalam kehidupan berbangsa