Multatuli dalam Catatan Medan Prijaji: Membaca Persoalan Zamannya

16 October 2026
Multatuli dalam Catatan Medan Prijaji: Membaca Persoalan Zamannya

Surakarta — Surat kabar tidak hanya merekam peristiwa, tetapi juga menyimpan gagasan dan cara pandang masyarakat pada masanya. Salah satunya melalui Medan Prijaji, surat kabar yang menjadi bagian penting dalam perkembangan pers Bumiputra pada masa kolonial. Dalam edisi Sabtu, 26 Februari 1910, Tahun IV, Nomor 8, terdapat artikel berjudul “Multatuli” yang membahas sosok Eduard Douwes Dekker dan pemikirannya melalui karya Max Havelaar.

 

Arsip tersebut merupakan bagian dari koleksi Monumen Pers Nasional yang menyimpan berbagai terbitan pers bersejarah. Keberadaan artikel ini memberikan gambaran tentang bagaimana sosok dan pemikiran seorang pengarang dibahas dalam media cetak pada awal abad ke-20, ketika masyarakat Indonesia masih berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda.

 

Medan Prijaji dan Perkembangan Pers Bumiputra

Medan Prijaji merupakan salah satu surat kabar penting dalam sejarah pers Indonesia. Surat kabar ini erat kaitannya dengan R.M. Tirto Adhi Soerjo, tokoh pers yang berperan dalam perkembangan jurnalisme Bumiputra pada masa kolonial.

 

Dalam edisi 26 Februari 1910, nama Tirto Adhi Soerjo tercantum dalam susunan redaksi sebagai direktur sekaligus pemimpin redaksi. Keterangan tersebut menunjukkan perannya dalam pengelolaan surat kabar yang menjadi salah satu ruang penyampaian informasi dan gagasan pada zamannya.

 

Kehadiran Medan Prijaji memperlihatkan bahwa pers pada awal abad ke-20 tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyebaran berita dan iklan, tetapi juga menjadi medium untuk membahas persoalan sosial, kehidupan masyarakat, serta pemikiran tokoh. Melalui tulisan-tulisan yang diterbitkan, surat kabar turut merekam dinamika pemikiran yang berkembang di tengah masyarakat kolonial.

 

Multatuli dan Kritik terhadap Praktik Kolonial

Artikel “Multatuli” membahas Eduard Douwes Dekker, mantan Asisten Residen di Lebak, Banten, yang dikenal melalui nama pena Multatuli. Namanya lekat dengan Max Havelaar, karya sastra yang mengangkat persoalan kehidupan masyarakat Bumiputra dalam sistem pemerintahan kolonial.

 

Pengalaman Douwes Dekker selama bertugas di Lebak menjadi salah satu latar penting dalam lahirnya karya tersebut. Melalui Max Havelaar, ia menyoroti praktik penyalahgunaan kekuasaan dan penderitaan masyarakat di tengah sistem kolonial. Karya ini kemudian dikenal luas sebagai salah satu tulisan yang mengangkat kritik terhadap praktik pemerintahan kolonial di Hindia Belanda.

 

Pembahasan mengenai Multatuli dalam Medan Prijaji menunjukkan bahwa karya sastra dan pemikiran pengarang menjadi bagian dari wacana yang dapat dimunculkan di surat kabar. Pers tidak hanya menyampaikan informasi mengenai suatu karya atau berita, tetapi juga menyediakan ruang bagi pembaca untuk mengenali gagasan yang berkaitan dengan hukum, kemerdekaan, dan kehidupan masyarakat.

 

Membaca Arsip Pers dalam Konteks Sejarah

Artikel “Multatuli” dalam Medan Prijaji menjadi salah satu sumber untuk memahami bagaimana pemikiran seorang pengarang dibicarakan melalui media cetak pada awal abad ke-20. Isi artikel tersebut perlu dibaca dengan mempertimbangkan konteks sejarah, waktu penerbitan, serta sudut pandang yang digunakan oleh penulisnya.

 

Arsip surat kabar memiliki nilai penting karena dapat membantu masyarakat menelusuri perkembangan gagasan dan wacana publik dari masa ke masa. Melalui arsip, pembaca tidak hanya memperoleh informasi mengenai tokoh atau peristiwa, tetapi juga dapat mempelajari bagaimana suatu pemikiran disampaikan dan dibicarakan dalam lingkungan sosial pada zamannya.

 

Monumen Pers Nasional menyimpan berbagai koleksi surat kabar dan majalah bersejarah yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran mengenai perkembangan pers dan sejarah Indonesia. Edisi Medan Prijaji tanggal 26 Februari 1910 menjadi salah satu contoh bagaimana arsip media cetak membantu masyarakat memahami hubungan antara pers, karya tulis, dan dinamika kehidupan pada masa kolonial.

 

Sumber: Medan Prijaji, Tahun IV, Nomor 8, Sabtu, 26 Februari 1910. Koleksi arsip Monumen Pers Nasional.

Bagikan:
Berita Terkait