Indonesiagoid Goes to Campus: Menjaga Arah Kreativitas Anak Bangsa di Era AI

22 January 2026
Indonesiagoid Goes to Campus: Menjaga Arah Kreativitas Anak Bangsa di Era AI

Yogyakarta, 21 Januari 2026 - Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) bergerak jauh lebih cepat daripada kesiapan manusia mengendalikannya. Di tengah banjir konten, krisis keaslian, dan ancaman manipulasi digital, masa depan kreativitas generasi muda dipertaruhkan.

 

Demikian ditegaskan Direktur Informasi Publik Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media (KPM) Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) Nursodik Gunarjo di saat kegiatan Indonesia.go.id Goes to Campus (IGtC) bertajuk “AI: Sahabat atau Musuh Kreativitas? Bikin Konten Gokil & Tetap Etis” di Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) Yogyakarta, Rabu (21/1/2026).

 

Nursodik pun menekankan bahwa teknologi tidak pernah berdiri netral, melainkan selalu membawa nilai dari manusia yang akan menggunakannya.

 

“Teknologi itu tidak pernah netral; ia selalu mengikuti nilai orang yang menggunakannya. AI boleh semakin pintar, tetapi masa depan bangsa tetap ditentukan oleh nilai, nalar, dan keberanian manusianya,” ujar Nursodik.

 

Menyadari itu, IGtC hadir langsung di kampus mengajak mahasiswa berdialog, berpikir kritis, dan bersama-sama memastikan teknologi, termasuk AI, tetap berada di bawah kendali nilai kemanusiaan dan kepentingan bangsa.

 

IgtC dikatakan Nursodik dirancang sebagai ruang dialog strategis antara pemerintah dan mahasiswa, bukan sekadar forum sosialisasi kebijakan. Program ini bertujuan memperkuat literasi digital, membangun kesadaran etis, serta mendorong generasi muda agar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga produsen gagasan di ruang digital.

 

“Kita ingin Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga produsen gagasan. Kebijakan digital yang kuat tidak lahir dari ruang tertutup, melainkan dari percakapan dengan generasi muda di kampus,” tegasnya.

 

AI, katanya, dapat menjadi ancaman bagi kreativitas apabila seluruh proses berpikir diserahkan sepenuhnya kepada mesin.

 

“Khusus bagi mahasiswa, AI adalah alat bantu berpikir, bukan pengganti berpikir. Pilar utamanya tetaplah manusia,” katanya.

 

Ancaman Nyata dan Tantangan Literasi Digital

 

Saat yang sama, Ketua STMM MMTC Yogyakarta Agung Harimurti mengingatkan generasi muda bahwa di balik peluang besar AI, terdapat ancaman serius yang harus diantisipasi bersama, terutama terkait manipulasi digital dan keamanan informasi.

 

“AI telah berkembang dari sekadar otomatisasi menjadi sistem kompleks yang menunjang kreativitas. Namun, kita juga harus waspada terhadap dampak negatifnya, salah satunya ancaman deepfake,” jelas Agung.

 

Ia mengungkapkan bahwa pada 2025 tercatat sekitar 8 juta konten deepfake beredar, dengan tingkat keberhasilan manipulasi suara mencapai 77 persen dalam menipu korban.

 

“Jika pada 2018 pembuatan deepfake suara membutuhkan 56 jam, kini hanya butuh tiga detik dengan biaya yang sangat murah. Ini ancaman serius bagi ruang publik digital,” katanya.

 

Agung menegaskan pentingnya integritas akademik agar AI benar-benar menjadi anugerah.

 

“Jangan sampai dosen memberi tugas dengan AI dan mahasiswa menjawab dengan AI, sehingga yang pintar hanya AI-nya saja,” ujarnya.

 

Turut hadir mengisi IGtC adalah pakar digital branding Ruli Nasrullah (Kang Arul) yang menegaskan bahwa AI adalah kenyataan zaman yang tidak bisa dihindari, namun harus ditempatkan secara proporsional.

 

“AI itu pisau bermata dua. Ia bukan pengganti manusia, tetapi asisten yang membantu kita berpikir dan bekerja lebih praktis,” ujarnya.

 

Dalam konteks dunia kreatif dan personal branding, menurut Ruli, autentisitas dan jati diri tetap menjadi kunci utama agar manusia tidak tergantikan oleh teknologi.

 

“Teknologi tidak akan menghilangkan profesi kreatif selama kita memiliki identitas dan signature yang kuat,” katanya.

 

Sementara Kepala Program Studi Manajemen Produksi STMM Yogyakarta, Diyah Ayu menguatkan apa yang disampaikan Nursodik Gunarjo bahwa etika harus menjadi fondasi utama dalam penggunaan teknologi dan AI.

 

“Dasar kita dalam menggunakan teknologi adalah hati nurani, tanggung jawab sosial, dan tanggung jawab pribadi,” ujarnya.

 

Pemanfaatan AI tidak boleh semata-mata mengejar efisiensi dan kecepatan, tetapi harus diarahkan untuk kemaslahatan bersama.


“Artificial Intelligence harus digunakan secara etis dan bertanggung jawab demi kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara,” tegasnya.

 

Menurut Diyah, penguasaan keterampilan digital, termasuk AI, akan menjadi kunci masa depan generasi muda. Namun tanpa landasan nilai, teknologi justru berpotensi merugikan manusia itu sendiri.

 

Sementara itu, Tim Analisisa Isu Publik Kawedanan Tandha Yekti Keraton Yogyakarta, Satya Bilal turut menekankan bahwa teknologi, termasuk AI, bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan utama di masa depan bagi generasi muda dan calon profesional.

 

“Teknologi bukan lagi sekadar penyerta, tetapi sudah menjadi kebutuhan di masa mendatang,” ujarnya.

 

Ia menilai AI membuka peluang besar bagi kesuksesan generasi muda jika dimanfaatkan secara bijak. “Manfaatkan teknologi dengan bijak agar menjadi jalur sukses bagi generasi muda,” kata Satya, seraya mendorong mahasiswa untuk melihat AI sebagai peluang, bukan ancaman.

 

Melalui IGtC, Kemkomdigi pun berharap kampus menjadi garda depan dalam membangun ekosistem digital nasional yang kreatif, kritis, dan beretika. Program ini menjadi jembatan antara kebijakan publik dan aspirasi generasi muda agar transformasi digital berjalan seiring dengan nilai kemanusiaan.

 

“Kita ingin Indonesia tidak hanya kreatif, tetapi juga etis. AI harus menjadi alat untuk membangun komunikasi publik yang sehat dan Indonesia digital yang benar-benar bermanfaat,” pungkas Nursodik

Bagikan:
Berita Terkait
Beri Masukan Anda
Apakah anda memiliki masukan, pertanyaan, atau keluhan terhadap pelayanan website kami?