Meureudu, InfoPublik - Pagi itu, Posko Pengungsian Gampong Grong-Grong Capa, Mereudu, Pidie Jaya, Aceh, mulai ramai sejak matahari belum tinggi. Aroma bubur panas dari dapur umum bertemu dengan suara anak-anak yang menunggu kegiatan pertama mereka setelah hari-hari penuh kecemasan.
Di tengah keramaian itu, sebuah mobil berwarna putih berhenti pelan. Di bodinya tertulis: Mobil Dukungan Psikososial Kemkomdigi. Mobil itu bukan sekadar kendaraan ia membawa cerita pemulihan.
Untuk sebagian besar anak, mobil itu adalah kejutan. Bukan makanan, bukan bantuan logistik, tetapi sesuatu yang lebih mereka rindukan: ruang bermain, bercerita, dan merasa aman.
Sudah hampir sepekan sejak banjir menerjang Pidie Jaya. Lumpur masih mengendap di rumah-rumah, menyisakan bau pekat dan kenangan menegangkan yang sulit hilang.
Banyak anak belum kembali ke sekolah. Bangunan masih tertutup lumpur, sebagian fasilitas rusak, dan aktivitas belajar mengajar belum dimulai.
Di posko, anak-anak lebih banyak duduk, tidur, atau bermain seadanya. Tak ada kegiatan terstruktur, tak ada ruang untuk mereka mengekspresikan ketegangan yang tersisa.
Munir, 48 tahun, salah satu warga yang kini tinggal di posko, menyebut bahwa anak-anak hanya bermain di depan masjid dan tak memiliki aktivitas lain. “Sekolah pun belum aktif,” ujarnya pelan.
Saat Mobil Psikososial datang, wajah anak-anak langsung berubah. Ketegangan yang selama ini mengendap seolah menemukan pintu keluar.
Tim relawan Kemkomdigi dan Yayasan Geutanyoe yang bekerja sama dengan Save the Children menyiapkan tikar, kertas gambar, boneka hewan, dan perlengkapan kegiatan lainnya. Tak lama, anak-anak bergerombol mendekat.
Mereka duduk melingkar, sebagian memeluk boneka, sebagian lainnya memegang krayon sambil menunggu instruksi.
Kegiatan dimulai dengan dongeng persahabatan. Suara relawan yang lembut perlahan menarik perhatian anak-anak. Dalam dongeng itu, tokoh utama adalah sekelompok hewan yang saling menolong saat banjir datang. Cerita yang sederhana, tapi sangat dekat dengan apa yang baru saja mereka alami.
Anak-anak menyimak dengan mata berbinar. Beberapa di antaranya tampak menahan senyum saat mendengar bagian lucu dari cerita tersebut.
Setelah dongeng, permainan dimulai. Anak-anak dibagi ke dalam kelompok kecil. Ada yang bermain tebak gerak, ada yang berlari kecil sambil tertawa.
Seorang bocah laki-laki bernama Rijal tampak paling antusias. Ayahnya, Pudin (55), memperhatikan dari kejauhan dengan mata yang sedikit berkaca. “Senang sekali lihat anak-anak bisa menggambar, bermain seperti di sekolah,” kata Pudin. “Sudah lama kami tidak lihat mereka ceria begini.”
Di sudut lain, seorang ibu bernama Nur Aini—dikenal sebagai Mama si Fitri—mengamati anaknya yang sedang mewarnai.
Ia tersenyum kecil. “Senang, daripada diam saja di dalam posko,” katanya. “Di sini banyak kawan-kawannya.”
Banjir membuat rumahnya tertutup lumpur tebal. Ia mengaku masih sulit membersihkannya karena seluruh barang bercampur lumpur. “Sekolah pun masih belum bisa masuk. Banyak lumpur di dalamnya,” ujarnya lirih.
Kegiatan hari itu terasa seperti jeda. Jeda dari duka, dari pekerjaan berat, dari ingatan tentang air yang datang begitu cepat.
Mobil Dukungan Psikososial ini bukan pertama kali hadir di Aceh, namun untuk warga Gampong Grong-Grong Capa, kehadirannya sangat berarti.
Selama dua hari, kegiatan serupa digelar di tiga posko berbeda: Meunasah Krueng, Meunasah Balek, dan Gampong Grong-Grong Capa. Total 388 orang menerima manfaat—177 anak perempuan, 155 anak laki-laki, dan 56 pendamping orang tua.
Di setiap posko, anak-anak diajak bermain, mendengar dongeng, mewarnai, dan memberikan nama pada boneka hewan.
Namun ada satu hal yang berbeda dalam kegiatan ini: edukasi mengenai PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Perlindungan Anak di Ruang Digital (PP Tunas).
Edukasi ini disampaikan dengan cara yang ramah anak, melalui cerita dan dialog ringan yang membuat mereka nyaman.
Relawan Reza Pahlevi menjadi salah satu yang menyampaikan pesan penting itu. “Anak-anak yang sedang pulih dari trauma harus tetap aman di dunia digital,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa pascabencana, anak-anak sering mencari hiburan dari gawai. Di sinilah risiko konten negatif bisa muncul.
Orang tua yang hadir mengaku baru memahami pentingnya pendampingan digital. Mereka selama ini lebih fokus pada pemulihan rumah dan logistik.
Mama si Fitri mengangguk-angguk ketika dijelaskan soal PP Tunas. “Iya, anak-anak sekarang sering lihat video. Kita pun capek, kadang tak bisa awasi,” katanya jujur.
Sosialisasi ringan itu membuka wawasan banyak keluarga. Mereka menyadari bahwa keselamatan anak bukan hanya soal fisik, tetapi juga ruang digital.
Setelah edukasi selesai, anak-anak kembali bermain. Suara tawa terdengar nyaring, menggema hingga ke sekitar masjid.
Munir tersenyum melihat suasana itu. “Bagus sekali kegiatan ini,” katanya. “Anak-anak jadi lebih ceria. Mereka memang butuh ini.”
Di dekat pintu posko, beberapa ibu tampak berbincang sambil menggendong anak balita. Mereka tampak lebih rileks dari biasanya. Seorang ibu bahkan berkata, “Ini pertama kali saya lihat anak saya tertawa sejak banjir itu.”
Ruang Aman Anak
Program ini bukan hanya soal kegiatan. Ia adalah ruang aman, tempat anak-anak bisa merasa bebas dari ingatan buruk.
Dalam setiap gambar yang mereka warnai, ada harapan baru yang perlahan tumbuh.
Dalam setiap permainan, ada keberanian kecil untuk kembali berinteraksi.
Dalam setiap dongeng, ada pesan bahwa mereka tidak sendirian.
Wildan Fajar, Koordinator Relawan Ditjen Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, mengatakan bahwa ini adalah bentuk kehadiran negara saat masyarakat membutuhkan dukungan emosional. “Kami ingin anak-anak kembali merasa aman,” ujarnya. Ini bukan hanya tentang bermain, tapi tentang memulihkan kepercayaan diri mereka.” di posko pengungsian Gampong Grong-Grong Capa, Pidie Jaya, Senin (8/12/2025).
Wildan juga menyampaikan apresiasi kepada relawan, perangkat desa, dan masyarakat yang membantu penyelenggaraan kegiatan.
Menurutnya, suasana hangat yang tercipta hari itu adalah hasil dari gotong royong warga.
Ia berharap kegiatan ini bisa memberi energi positif bagi keluarga yang sedang bangkit dari keterpurukan.
Saat kegiatan berakhir, anak-anak memberikan salam kepada relawan. Beberapa bahkan memeluk boneka yang mereka bawa pulang.
Seorang bocah perempuan berkata, “Besok datang lagi ya, Kak.” Kalimat sederhana yang membuat semua relawan tersenyum.
Hari itu mungkin hanya dua jam, namun bagi anak-anak posko, dua jam itu adalah dunia yang berbeda.
Dunia yang penuh warna, tawa, dan harapan.Dunia di mana masa depan terasa kembali mungkin, meski lumpur masih menempel di halaman rumah mereka.
