Agam, InfoPublik – Mobil Dukungan Psikososial Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyentuh wilayah terdampak bencana banjir dan longsor terparah di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, Senin (15/12/2025).
Kehadiran layanan ini difokuskan pada pemulihan kondisi psikologis anak-anak yang terdampak bencana.
Sekitar 100 anak di Posko Pengungsian SD 05 Kayu Pasang, Jorong Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, mengikuti berbagai aktivitas dukungan psikososial. Kegiatan tersebut bertujuan membantu anak-anak mengatasi trauma pascabencana yang mereka alami sekitar dua pekan sebelumnya.
Salah seorang pengungsi anak, Dikroaitu Aira (10), menceritakan pengalamannya saat banjir dan longsor terjadi. Ketika itu, ia sedang membantu kakaknya memetik kelapa sawit di ladang. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah sungai akibat naiknya air yang membawa material kayu dan bebatuan.
“Saya dan kakak langsung berlari ke tempat yang lebih tinggi dan akhirnya menuju ke SD 05 Kayu Pasak,” ujarnya.
Kenangan traumatis akibat rumahnya yang rusak diterjang bencana untuk sementara dapat dilupakan Aira saat mengikuti berbagai kegiatan yang disediakan Mobil Dukungan Psikososial Komdigi, seperti permainan interaktif, mewarnai, dan mendengarkan dongeng.
“Senang kakak-kakak datang menghibur kami di posko pengungsian,” katanya.
Hal serupa dirasakan Ilham Endi Saputra (10). Ia mengaku sangat menikmati sesi mewarnai karena selama berada di pengungsian lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai.
“Sudah dua minggu di sini. Bosan main telepon genggam. Alat mewarnai ini bisa saya gunakan lagi setelah sekolah,” ujarnya.
Sementara itu, Wali Jorong Salareh Aia, Nofril Harman, menyampaikan apresiasi atas kegiatan dukungan psikososial bagi anak-anak. Namun, ia juga berharap kegiatan serupa dapat diperluas untuk orang dewasa, khususnya kepala keluarga dan ibu rumah tangga yang turut mengalami trauma mendalam.
“Kami berharap ada kegiatan pemulihan psikososial juga bagi orang tua, misalnya melalui pelatihan keterampilan atau kegiatan produktif sebagai bekal setelah masa pengungsian,” katanya.
Ia menambahkan bahwa sebagian warga kehilangan tempat tinggal dan masih bertahan di pengungsian karena keterbatasan dukungan keluarga. Selain pemulihan psikologis, warga juga berharap percepatan pembangunan hunian sementara serta tersedianya layanan kesehatan yang siaga selama 24 jam di lokasi pengungsian.
Menanggapi hal tersebut, Konselor Teras Psikologi BIC Kota Padang, Az-Zahra Yusup Fatimah, menjelaskan bahwa anak-anak dalam situasi bencana umumnya berada dalam kondisi psikologis yang penuh kebingungan dan ketakutan. Pada fase ini, banyak anak belum mampu mengekspresikan emosi secara verbal.
“Oleh karena itu, pendekatan yang kami terapkan adalah dukungan psikososial berbasis aktivitas bermain. Pendekatan ini memiliki kemiripan dengan play therapy, namun disesuaikan dengan konteks lapangan dan dilakukan secara bertahap,” jelasnya.
Ia menerangkan bahwa tahap awal difokuskan pada permainan sederhana untuk membangun rasa aman dan kedekatan antara fasilitator dan anak.
Selanjutnya, kegiatan mewarnai digunakan sebagai media ekspresi emosi secara tidak langsung. Tahap akhir dilakukan melalui kegiatan mendongeng untuk menumbuhkan rasa tenang dan harapan.
Berdasarkan hasil observasi di lapangan, masih ditemukan anak-anak yang menunjukkan respons ketakutan, terutama saat hujan turun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa anak-anak masih membutuhkan pendampingan psikososial secara berkelanjutan.
“Kehadiran tim dukungan psikososial diharapkan dapat menjadi ruang aman bagi anak-anak agar mereka merasa didampingi dan perlahan pulih secara emosional,” ujarnya.
