Jakarta — Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga luka psikologis, terutama bagi anak-anak. Untuk membantu memulihkan kondisi tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) kembali mengerahkan Mobil Dukungan Psikososial ke berbagai daerah terdampak di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.
Program ini merupakan kelanjutan dari tahap awal yang sebelumnya dilaksanakan di Belawan, Medan, pada 6 Desember 2025, dan menjadi bagian dari komitmen Komdigi dalam memastikan pemulihan pascabencana berjalan menyeluruh—baik secara fisik maupun emosional.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling menguatkan di tengah masa sulit ini.
“Di saat bencana, yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan logistik, tetapi juga kehadiran dan empati. Mari kita saling menguatkan, saling menjaga, terutama untuk anak-anak kita. Negara hadir melalui layanan psikososial ini agar senyum dan keceriaan anak-anak dapat tumbuh kembali,” ujar Meutya.
Sekretaris Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Komdigi, Very Radian Wicaksono, menegaskan bahwa Mobil Dukungan Psikososial bukan sekadar respons jangka pendek, melainkan bagian dari strategi pemulihan berkelanjutan.
“Pemulihan pascabencana tidak cukup hanya membangun kembali infrastruktur. Negara juga harus hadir untuk memulihkan kondisi psikologis masyarakat, terutama anak-anak yang mengalami trauma. Mobil Psikososial ini adalah wujud nyata kehadiran negara dalam proses pemulihan yang menyeluruh,” jelasnya.
Menjangkau Titik Pengungsian di Aceh dan Sumatra Barat
Pada Tahap II, layanan Mobil Dukungan Psikososial diperluas ke berbagai gampong dan titik pengungsian di Aceh, antara lain Masjid Tuha Kecamatan Meureudu, Gampong Geunteng dan Meunasah Raya di Pidie Jaya, Gampong Lhokseumira dan Paya Ceurape di Kabupaten Bireuen, serta lokasi pengungsian terpusat di Masjid Al-Istiqamah Ulee Balang.
Sementara di Sumatra Barat, layanan menjangkau sejumlah titik di Kota Padang dan Kabupaten Agam, seperti Posko Pengungsian SD 05 Kayu Pasa, Huntara Rusunawa Lubuk Buaya, Nagari Bayua Maninjau, Kampung Apa, Tambiang Banda Gadang, hingga Posko Nagari Malalak. Lokasi-lokasi ini dipilih karena masih tingginya kebutuhan pemulihan sosial dan emosional warga terdampak.
Rangkaian Lokasi Terpadu di Sumatra Utara
Di Sumatra Utara, kegiatan dilaksanakan secara bertahap dan terjadwal, meliputi Kelurahan Harjosari I Medan Amplas, Kelurahan Kampung Baru Medan Maimun, SD Kartika Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang, Langgar Darussalam Tanjung Pura, Desa Pematang Cengal dan Desa Sangga Lima Kecamatan Gebang, Yayasan Pendidikan Mulia Securai Babalan Kabupaten Langkat, hingga SDN Alur Pakis Sei Lepan, Pangkalan Brandan.
Very Radian menambahkan, penentuan lokasi dilakukan berdasarkan pemetaan kebutuhan lapangan serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan mitra kemanusiaan.
“Kami memastikan Mobil Psikososial hadir di titik-titik yang benar-benar membutuhkan. Pendekatan ini sejalan dengan fungsi komunikasi publik Komdigi untuk memastikan pemulihan berjalan inklusif, tepat sasaran, dan berpihak pada kelompok paling rentan,” ujarnya.
Mengembalikan Rasa Aman dan Keceriaan Anak
Sebagaimana tahap sebelumnya, layanan Mobil Dukungan Psikososial difokuskan pada pemulihan emosional anak-anak melalui pendekatan kreatif dan partisipatif, seperti bermain, menggambar, bercerita, dan interaksi kelompok yang aman dan terarah. Kegiatan ini dirancang untuk mengurangi kecemasan, membangun kembali rasa aman, serta menumbuhkan ketangguhan sosial pascabencana.
Komdigi menegaskan, program ini akan terus dievaluasi dan dikembangkan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketangguhan masyarakat menghadapi risiko bencana berulang, sekaligus memastikan komunikasi publik tetap hadir dengan empati di saat krisis.
